Pendidikan merupakan sebuah proses untuk menjadikan pribadi manusia mengarah kepada hal yang lebih baik. Keberhasilan sebuah proses Pendidikan yang diinternalisasikan kedalam proses penerapan peningkatan akan ilmu pengetahuan harus dibuktikan dengan implementasi karakter atau akhlak dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana tertuang dalam UU No 20 Tahun 2020 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tatanan impelementasi Pendidikan akan berhasil apabila seluruh elemen yang terlibat seperti Lembaga Pendidikan baik formal maupun normal, orang tua, peserta didik, masyarakat dan tentu pemerintah dalam hal ini sebagai policy maker seperti kurikulum saling berpadu untuk memberikan penguatan tentu tidak hanya berfokus pada penyampaian atau penerapan ilmu pengetahun, akan tetapi dikuatkan dengan implementasi pengamalan karakter atau akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hari Pendidikan nasional tentu menjadi momentum untuk memperkokoh nilai kebangsaan. Nilai kebangsaan menjadi komponen yang penting sebagai sumber kekuatan untuk membangun serta mewujudkan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai kebangsaan sebagai sebagaimana terkandung dalam Undang-undnag Dasar 1945 dainataranya adalah nilai religius, nilai kemanusiaan, nilai produktivitas, nilai keseimbangan, nilai demokrasi, nilai kesamaan derajat, dan nilai ketaatan hukum tentu harus terimpelementasikan dengan baik sebagai wujud keberhasilan proses pembelajaran. Era kemajuan zaman tidak bisa dihindari, tentu memiliki dampak yang positif dan negative. Dampak positif dari kemajuan zaman yang dibuktikan denagn terus bertambah canggihnya teknologi seperti, kemudahan dalam akses dan proses pembelajaran yang lebih kekinian, mudahnya menjangkau referensi-referensi berbagi sumber keilmuan, kebabasan berpendapat yang bisa dilakukan secara cepat melalui dunia maya, dan tentu kontrol atau pengawasan terhadap iklim demokrasi negara kita yang semakin mudah diamati. Sealin itu, terdapat dampak negative yang harus bisa diantisipasi, seperti kontroling terhadap penggunaan gawai terhadap anak didik yang masih minim dilakukan oleh orang tua, terjadinya adu pendapat yang tidak sehat sehingga memunculkan konflik antar suku, agama, dan karena itu, kualitas Pendidikan sebagai alat untuk menciptakan karakter yang sesuai dengan nilai kebangsaan tentu harus kita sadari bersama, bahwa sejatinya sebuah proses Pendidikan yang baik, seluruh komponen memiliki kesadaran yang tinggi tentang masing-masing perannya sebagai pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah, sebab terwujudnya good governance, iklim demokrasi yang baik, pemebentukan karakter anak bangsa yang sesuai tujuan system Pendidikan nasional, serta sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera tentu berawal dari Pendidikan yang berkualitas dan salah satu goal-nya adalah mampu memperkokoh nilai kebangsaan. Intan Kuntansih, Penulis adalah Kepala SMPIT AN-NABA Ciasem Cek Berita dan Artikel yang lain di Google NewsFOLLOW SOCMEDFB & IG TINTAHIJAUcomIG & YT TINTAHIJAUcomE-mail Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
PribadiHARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1443 H dan cuti bersama. Berdasarkan Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022 Nomor 28254/MPK/TU.0203/2022, tanggal 22 April 2022, seremoni (upacara) Hardiknas akan dilaksanakan pada 13 Mei 2022.loading...Nidlomatum MR. FOTO/ JAKARTA - Nidlomatum MRKetua Bidang Riset dan Data Rumah Perempuan dan Anak RPA,Ketua LKP3A Kabupaten Bogor,Mahasiswa S2 School of Government and Public Policy SGPP IndonesiaPADA awal 2020, Badan Pusat Statistik BPS, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, UNICEF, dan Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia PUSKAPA bekerja sama untuk menerbitkan laporan data berjudul "Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa Ditunda". Dari judul laporan ini, pembaca sekilas jelas bisa memahami masalah perkawinan anak yang dihadapi Indonesia saat ini bisa dikategorikan sebagai bencana tidak, realitasnya dari data yang ada 1 dari 9 anak perempuan berusia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun pada 2018, yang angkanya mencapai sekitar anak. Angka ini menempatkan Indonesia pada 10 negara dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia dan peringkat dua tertinggi di ASEAN. Mencengangkan bukan?Secara prevalensi jika dilakukan perbandingan antara pernikahan anak perempuan dan anak laki-laki, dalam dasa warsa terakhir, perkawinan anak perempuan di Indonesia menunjukkan penurunan, namun tak signifikan dan terkesan landai. Tren anak perempuan yang melangsungkan perkawinan pertama sebelum usia 18 tahun maupun 15 tahun pada 2008 sampai 2018 hanya menurun sebesar 3,5 poin persen. Rinciannya, pada 2008, prevalensi perkawinan anak perempuan adalah sebesar 14,67%, namun pada satu dekade kemudian atau 2018 menjadi turun menjadi 11,21%.Di sisi lain, saat prevalensi perkawinan anak perempuan trennya menurun, prevalensi perkawinan anak laki-laki di Indonesia pada kurun waktu 2015-2018 menunjukkan tren yang cenderung statis. Dari data yang ada, sekitar 1 dari 100 laki-laki usia 20–24 tahun sekitar 1,06% pada 2018 telah melangsungkan perkawinan sebelum usia 18 tahun. Prevalensi ini meningkat sedikit sebesar 0,33 poin persen dibandingkan 2015 yang hanya mencapai 0,73%.Secara nasional, dari angka ini, ada 20 provinsi yang prevalensi perkawinan anak perempuan di wilayahnya masih ada di atas rata-rata Nasional. Tiga di antaranya yakni Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, tercatat ada lebih dari 1 juta anak perempuan yang menikah pada usia anak di provinsi provinsi mana yang secara angka absolut menyumbang kejadian perkawinan usia anak tertinggi? Jawabannya, adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam 10 tahun, prevalensi perkawinan anak di daerah perdesaan menurun sebanyak 5,76 poin persen, sementara prevalensi di daerah perkotaan hanya menurun kurang dari 1 poin fenomena ini, banyak pihak sebenarnya telah mengupayakan pencegahan membludaknya pernikahan anak, baik dari kalangan Non Government Organitation NGO maupun dari para pemangku kebijakan. Salah satu bukti dari upaya itu adalah usaha pemerintah yang berani menetapkan target penurunan perkawinan anak secara nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPJMN 2020-2024 dari 11,2% di 2018 menjadi 8,74 di 2024. Serta, sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan berbagai NGO tentang bahaya pernikahan saat ini semakin marak kampanye tentang bahaya perkawinan anak serta upaya penyadaran bahwa perkawinan anak merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap anak. Kampanye yang dilakukan di antaranya menyosialisasikan bahwa anak yang dipaksa menikah atau karena kondisi tertentu harus menikah di bawah umur tentu berdampak pada banyak hal mulai dari kerentanan terputusnya akses pendidikan, kualitas kesehatan, potensi mengalami tindak kekerasan, serta hidup dalam kemiskinan. Dampak ini pun tidak hanya terhenti pada nasib pasangan nikah dini, tapi menggelinding bagai bola salju pada anak yang dilahirkan serta berpotensi menimbulkan kemiskinan antargenerasi. Melihat pemetaan masalah serta kompleksnya dampak pernikahan anak, momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei ini, sepatutnya menjadi bahan telaah pentingnya pendidikan tentang pencegahan pernikahan dini kepada segala lapisan masyarakat dan semua kalangan mulai dari anak, orang tua serta masyarakat keseluruhan agar bersama-sama bersinergi mengatasi bencana ini.
OpiniBelajar Cara Belajar di Hari Pendidikan Nasional. Tahun ini, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional begitu berbeda dengan tahun sebelumnya. Ki Hajar Dewantara selaku simbol Hari Pendidikan Nasional, semangat juang dalam bidang pendidikan dapat kita teladani bersama di tengah Pandemi Covid-19. Salah Paham tentang "AnnikahuKompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Opini Tentang Pendidikan Di IndonesiaAssalamualaikum wr kesempatan kali ini, saya akan menulis seluruh pendapat saya mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Menurut saya tentang pendidikan di Indonesia yaitu, masih kurang baik. Karna tidak semua sekolah memenuhi standar pendidikan. Dan masih banyak anak-anak di Indonesia yang belum merasakan pendidikan yang layak dan bahkan putus sekolah. Dan di Indonesiapun ada istilah “suap-menyuap”, “beli nilai” dan bahkan ijasah pun bisa dibeli di Indonesia. Di Indonesia, sangat banyak sekolah yang tidak layak untuk dipakai sebagai tempat belajar atau untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Karena tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat. Pemerintahan di Indonesia juga kurang memperhatikan sekolah-sekolah dipelosok-pelosok negri yang kita cintai ini. Keadaan sekolah ini sangat memprihatinkan. Dimana banyak anak-anak di Indonesia yang kurang mampu, namun mempunyai semangat belajar yang tinggi. karena masalah ekonomi, yang membuat pendidikan mereka terhambat, sehingga mereka sering terganggu dalam proses belajar mengajarnya karena tempat yang tidak layak dan sangat mengganggu. Seperti misalnya atap yang bocor saat hujan, atau bahkan banjir. Pemerintah kita tidak menyadari keadaan pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan ini, sedangkan sangat sering siaran televisi menyiarkan berita tentang pendidikan di Indonesia yang sangat memperihatinkan anggaran pendidikan di Indonesia tidaklah sedikit. Tetapi anggaran ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pendidikan. Banyak anggaran yang disalah gunakan oleh pihak yang berwenang hanya untuk kepentingan pribadi, anggaran pendidikan / uang bantuan sekola di “KORUPSI”, cukup miris pemerintah seolah tutup mata dengan kejadian-kejadian seperti ini. Semua pihak atau kalangan bawah merasa dirugikan karena adanya korupsi. Korupsi sangat mencoreng moral aspek pendidikan. Hal itu terjadi karena kurangnya pendidikan sebagai manusia, pastilah memiliki cita-cita. Dan dari sekolahlah kita memulai untuk belajar agar bisa menggapai cita-cita kita. Kita mulai belajar dan mendapat ilmu dan juga ijasah, surat yang paling dibutuhkan sebagai bekal masa depan kita, khususnya dalam berkarir. Dan lagi-lagi karna uang, orang yang tidak memenuhi pendidikanpun bisa mendapat ijasah hanya dengan “membeli” bahkan dengan nilai yang sempurna. Dan yang sangat tidak adil bagi masyarakat bawah adalah orang yang dengan mudah dan hidup lebih dari cukup yang bisa membeli ijasah beserta nilai-nilainya, bisa mendapat jabatan yang tinggi dengan upah gaji yang memuaskan pula. Tapi bagaimana dengan masyarakat kalangan bawah, yang hanya bermodalkan niat dan pendirian yang kokoh untuk mencapai pendidikan yang tinggi, yang belum terjamin masa depannya, kehidupan karirnya untuk mendapatkan kedudukan selayak usaha dan keahlian yang mereka punya. Semua sangat tidak adil. Masih adakah kesempatan untuk masyarakat kalangan bawah? Sekarang di Indonesia, kebanyakan bukan masalah yang paling utama, yaitu SKILL, namun seberapa besar uang “sogokan” nya. Hal ini bukan rahasia umum lagi pemerintah dan pejabat wewenang mengetahui kejadian ini tetapi lagi-lagi mereka menutup mata. Keadilan di Indonesia sudah mulai pudar orang dapat menghalalkan segala cara untuk bisa hidup dengan saja pemerintahan kita jauh lebih tegas pastilah tidak akan ada yang merasa dirugikan. Kurangnya aspek pendidikan keagamaan, akhlak dan berkehidupan bermasyarakat. Kembali ke masyarakat kalangan bawah, banyak anak-anak di Indonesia yang tidak bersekolah karna tidak memiliki biaya. Mereka menghabiskan hari-hari mereka untuk mencari uang, yang seharusnya dilakukan orangtua mereka. Mereka kebanyakan mencari uang dijalanan, menjadi tukang pengamen jalanan, peminta-minta dan bahkan ada juga yang bekerja sebagai tukang angkut, yang biasanya bebannya sangat berat, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Sangat menyedihkan mengetahui mereka masih anak-anak dibawah umur, yang seharusnya mereka menerima pelajaran disekolah atau bermain dengan teman-temannya. Siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Butakah para pemerintah yang “sudah pasti” pernah melihat kejadian seperti ini. Bagaimana dengan masa depan anak-anak itu? Masa depan bangsa kita? Pandangan Negara lain tentang kejadian ini? Bisakah pemerintah mendirikan pos untuk ana-anak ini mengetahui betapa penting dan berharganya arti pendidikan. Tidak perlu mewah dan megah, tetapi bisa membuat mereka mengerti. Saya yakin ada banyak sekali sukarelawan ataupun pahlawan pendidikan yang senantiasa membantu mereka. Ini semua juga demi masa depan bangsa kita. Tulisan saya ini memang hanya menjelaskan kelemahan pendidikan di Indonesia, namun bukan berarti tidak ada kelebihannya. Tidak sedikit anak atau pelajar Indonesia yang mengharumkan nama pendidikan Indonesia melalui pendidikan, apapun itu bentuknya. Banyak pelajar di Indonesia yang berhasil mengharumkan nama pendidikan di Indonesia, sampai keluar negri. Sayangnya, meski banyak sekali sekolah atau universitas di Indonesia, pelajar di Indonesia lebih banyak memilih melanjutkan pembelajaran diluar negri. KENAPA? Apa karena diluar negri lebih bagus, atau lebih memadai, atau karna gengsi? Sangat disayangkan pelajar di Indonesia lebih memilih sekolah diluar negri. Harapan kita semoga pelajar di Indonesia bisa membawa dampak positif, bukannya tertular dampak negative. Semoga pelajar di Indonesia bisa membawa nama baik dan menjaganya diluar cara memperbaiki system pendidikan di Indonesia? Di harapkan kepada pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan terkait untuk bisa lebih membuka matanya, untuk menyadari bahwa masih sangat banyak diluar sana anak-anak Indonesia yang membutuhkan uluran tangan dan hati nurani kita untuk muwujudkan keinginan mereka untuk merasakan pendidikan yang layak, untuk melangkah mencapai impian dan cita-cita yang mereka miliki, dan untuk memajukan generasi kita kedepannya. Bayangkan bagaimana kedepannya, keadaan Negara kita tanpa adanya pelajar-pelajar yang terdidik, yang mempunyai skill yang baik, yang bisa membawa perubahan di Indonesia. Bisakah pemerintah dan kita sebagai warga Negara Indonesia membantu mengurangi jumlah anak-anak jalanan yang kurang pendidikan? Indonesia membutuhkan para pahlawan tanpa tanda jasa, para relawan-relawan yang memiliki hati nurani. Indonesia membutuhkan “PERUBAHAN!” Berilah kesempatan kepada masyarakat kecil. Buatlah mereka merasa “MERDEKA” tanpa adanya penindasan dari masyarakat kalangan atas. Berilah kesempatan pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang kurang juga mengajari kita untuk saling membantu. Pendidikan juga mengajari kita tentang kebaikan-kebaikan, tentang keagamaan, tentang pahala dan dosa. Semua ASPEK dalam kehidupan kita, bahkan hal yang terkecilpun telah diajarkan dari satu kata penuh makna dan penting dalam kehidupan kita, “PENDIDIKAN”.Apakah kita bisa tanpa pendidikan? TIDAK! Tidak akan ada rasa belas kasihan, kemanusiaan, bahkan tidak akan ada yang cerdas! Sekarang kita hidup di jaman serba modern yang semakin mempermudah kita mencapai pendidikan yang layak. Seharusnya kita malah harus semakin maju, berkembang pesat dan berpikir lebih cerdas dalam segala hal khususnya Pendidikan, karena apapun yang kita butuhkan, tersedia pada jaman serba modern ini. Namun, kurangnya minat kita, lebih banyak orang yang terlena dari pada memanfaatkan dan mengembangkannya. Dari pendidikan-lah kita belajar memanfaatkan. Jadi diharapkan pendidikan di Indonesia lebih diketatkan dan mengikuti perkembangan dunia sehingga kita tidak ketinggalan dari Negara saya untuk pemerintah dan dinas pendidikan terkait, “AYO!!!” kita perbaiki sistem pendidikan yang seharusnya kita perbaiki. Mulailah membuka mata hati kita untuk menegakan keadilan yang seadil-adilnya bagi masyarakat baik kalangan atas, menengah, maupun bawah. Kita sama-sama memberantas korupsi, kecurangan dalam bekerja lelang jabatan, pembelian nilai atau ijasah, yang akan hanya memperburuk sistem yang ada di Indonesia. “mari kita majukan pendidikan di indonesia dengan aspek dan moral yang baik untuk indonesia yang baik ”“SUKSES PENDIDIKAN MERDEKA INDONESIA”Wassalamualaikum wr wb. Lihat Pendidikan Selengkapnya SelamatHari Pendidikan Nasional 2 Mei 2022. Dengan ilmu kita dapat menuju kemuliaan -Ki Hadjar Dewantara. Selamat Hardiknas 2022. Salah satu amal yang mengalir sampai di surga adalah ilmu yang bermanfaat. Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2022. Itulah rangkuman sejarah Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahunnya pada 2 Mei Logo Hari Pendidikan Nasional Hardiknas 2021Setiap tanggal 2 Mei Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Penetapan ini berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari peran Ki Hajar Dewantara yang kini dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Atas jasanya, melalui surat keputusan presiden tahun 1959 itu, tanggal lahir Ki Hajar Dewantara ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional Hardiknas.Pada Hari Pendidikan Nasional 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengusung tema "Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar".Walau tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi esensi atau makna pendidikan harus tetap sama. Pendidikan adalah modal bangsa untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Melalui pendidikan akan melahirkan generasi unggul yang siap meneruskan perjuangan kata "pendidikan" terselip makna dan harapan. Berikut rangkuman makna dan harapan pendidikan dari berbagai generasi Audia Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRIPendidikan merupakan elemen penting dalam kehidupan. Dengan pendidikan bisa mewujudkan apa yang diinginkan. Pendidikan membuka semua yang tertutup dalam diri kita. Pendidikan juga membuat kita tidak takut untuk melangkah menapaki satu demi satu batu pijakan untuk mewujudkan semoga pendidikan selalu di nomor 1 kan oleh semua murid, orangtua, masyarakat, bahkan pemerintah. Terutama untuk pendidikan di daerah terpencil mesti ada perhatian yang Nurlaela Mahasiswi Institut Pendidikan Indonesia IPI GarutPendidikan itu proses pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan yang mana nantinya dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan juga sebagai bentuk memanusiakan faktor pendorong pendidikan, semoga sarana prasarana dan tenaga pendidik harus lebih ditingkatkan. Sebab 2 hal ini penting. Apalagi di pelosok-pelosok yang sering kali sarana prasarananya kurang memadai ditambah lagi pengelolaan pendidikan intern yang sering kali mengambil hak peserta didik dengan korupsi, ini bisa menghambat dari itu sarana prasarana, guru yang profesional, dan pengelola di dalamnya semoga lebih baik lagi, karena tidak sedikit guru yang mengajar tidak sesuai kompetensi keahliannya. Intinya peningkatan mutu pendidik dan sarana prasarananya perlu Ananda Hidayat frelencerPendidikan sejatinya tercermin dalam perilaku diri, tak peduli seberapa kertas angka yang Noer Rahmat FPSH HAM DepokPendidikan adalah suatu proses mengenal Sang Pencipta. Sebab Sang Pencipta memberikan kita akal untuk berpikir dan mencari ilmu pendidikan di mana saja supaya semakin mengenal Sang Mahasiswa Universitas PakuanPendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar” dan pendidikan itu luas universal.AnonimPendidikan sebagai jembatan menuju jalan peradaban yang memiliki moral baik dan generasi yang berwawasan Aditya Mahasiswa IPB UniversityPendidikan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. Khususnya perempuan. Perempuan berpendidikan dampaknya adalah pada kualitas sumberdaya keluarga, waktu nikah, dan Nulhakim Siswa SMAN 1 Tenjo BogorSatu kata yang amat penting, di mana seluruh manusia wajib mendapatkannya tanpa terkecuali. Melalui pendidikanlah manusia bisa dikatakan sebagai manusia. Dengan ilmu juga dapat membedakan antara manusia dengan Pratiwi GuruPendidikan adalah sebuah proses panjang yang luar biasa. Pendidikan adalah hal spesial yang tak bisa dimiliki semua orang. Pendidikan adalah milik orang-orang tulus yang ingin mengabadikan dirinya untuk belajar dan mengajarkan berbagai kebenaran dan pendidikan merata, yang kaya bisa berilmu setara dengan yang miskin, yang di pedalaman dapat menimba sebanyak yang di kota besar. Aamiin ya Indah Paramita Mahasiswa IPB UniversityHarapannya, pendidikan berkualitas berdasarkan minat dan bakat pelajar. Jangan semua mata pelajaran dipaksa untuk bagus makna dan harapan pendidikan. Kalau menurutmu apa makna dan harapan dari pendidikan?
Kami mengucapkan selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional kepada semua pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, penggiat dan pecinta dunia pendidikan di seluruh tanah air. Semoga apa yang kita darma baktikan dalam dunia pendidikan selama ini, termasuk bagian dari amal kebajikan," tambahnya.Hari Pendidikan Nasional pada tahun ini akan diperingati dalam nuansa yang agak berbeda dari sebelumnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan upacara bendera terbatas karena pandemi Covid-19, saat ini bisa diperingati dengan upacara bendera normal seperti biasa. Di samping itu, Hari Pendidikan Nasional saat ini bersamaan dengan momen Idul Fitri 1444 Hijriah karena masih dalam nuansa bulan Syawal. Pandemi Covid-19 mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Ruang gerak dibatasi, pergaulan dilimitasi, dan pertemuan diamputasi. Akan tetapi, hikmah di balik itu, terjadi perubahan masif dalam struktur kehidupan masyarakat. Orang jadi lebih melek teknologi dari sebelumnya yang buta teknologi. Media virtual yang sebelumnya tidak dikenal menjadi bagian penting dalam kehidupan. Pembelajaran yang selama ini harus tatap muka langsung, ternyata bisa dijalankan secara virtual dengan kreativitas masing-masing guru. Pengambilan keputusan di organisasi, birokrasi, perusahaan, dan lainnya dapat dilakukan secara virtual. Ramadan mengajarkan arti pentingnya kesabaran dan kesetaraan. Para ulama menyebut bulan Ramadan sebagai bulan tarbiyah pendidikan. Ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diperintahkan untuk menahan hawa nafsu. Menahan diri dari berkata kasar, berkata dusta, melangkah ke tempat yang tidak baik, menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik, dan menjaga hati dari sifat iri, dengki, dan dendam. Ramadan juga mengajarkan pentingnya kesetaraan karena syariat berpuasa sama, baik untuk orang tua/muda, orang kaya/miskin, maupun atasan/bawahan. Dalam bulan Ramadan juga ada perintah mengeluarkan zakat bagi orang-orang yang memiliki harta berlebih yang harus dikeluarkan kepada orang-orang yang berkekurangan. Hal ini mengandung makna universal bahwa umat manusia diajarkan peduli dengan sesama. Islam mengajarkan kesetaraan yaitu bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah Swt adalah orang yang paling bertakwa QS. Al Hujurat 13. Pasca-Ramadan, yaitu bulan Syawal, yang secara etimologi bermakna peningkatan. Syawal mengajarkan akan pentingnya kesabaran dan persaudaraan. Tradisi mudik Lebaran yang biasanya dilakukan di Indonesia, mengandung esensi persaudaraan. Orang-orang yang bekerja di perantauan biasanya akan melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya pada saat menjelang Idul Fitri untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Tak jarang mereka membawa bekal oleh-oleh yang cukup banyak untuk dibagikan ke sanak famili di kampung. Kalau ditelaah lebih jauh sebetulnya para pemudik ini tidak hanya sekadar menyambung tali silaturahmi, melainkan ada makna yang lebih dalam yaitu rasa persaudaraan. Seperti apa pun keadaan di perantauan, saudara di kampung halaman harus merasakan kebahagiaan saat momen mudik itu tiba. Jika ditinjau dari pandangan Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis, fenomena ini disebut sebagai solidaritas mekanis, yaitu solidaritas yang dibangun atas dasar rasa kekeluargaan. Jadi, fenomena mudik ke kampung halaman melahirkan bentuk keakraban yang mungkin tidak ditemukan di masyarakat urban. Hari Pendidikan Nasional pada tahun ini akan diperingati dalam nuansa yang agak berbeda dari sebelumnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan upacara bendera terbatas karena pandemi Covid-19, saat ini bisa diperingati dengan upacara bendera normal seperti biasa. Di samping itu, Hari Pendidikan Nasional saat ini bersamaan dengan momen Idul Fitri 1444 Hijriah karena masih dalam nuansa bulan Syawal. Pandemi Covid-19 mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Ruang gerak dibatasi, pergaulan dilimitasi, dan pertemuan diamputasi. Akan tetapi, hikmah di balik itu, terjadi perubahan masif dalam struktur kehidupan masyarakat. Orang jadi lebih melek teknologi dari sebelumnya yang buta teknologi. Media virtual yang sebelumnya tidak dikenal menjadi bagian penting dalam kehidupan. Pembelajaran yang selama ini harus tatap muka langsung, ternyata bisa dijalankan secara virtual dengan kreativitas masing-masing guru. Pengambilan keputusan di organisasi, birokrasi, perusahaan, dan lainnya dapat dilakukan secara virtual. Ramadan mengajarkan arti pentingnya kesabaran dan kesetaraan. Para ulama menyebut bulan Ramadan sebagai bulan tarbiyah pendidikan. Ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diperintahkan untuk menahan hawa nafsu. Menahan diri dari berkata kasar, berkata dusta, melangkah ke tempat yang tidak baik, menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik, dan menjaga hati dari sifat iri, dengki, dan dendam. Ramadan juga mengajarkan pentingnya kesetaraan karena syariat berpuasa sama, baik untuk orang tua/muda, orang kaya/miskin, maupun atasan/bawahan. Dalam bulan Ramadan juga ada perintah mengeluarkan zakat bagi orang-orang yang memiliki harta berlebih yang harus dikeluarkan kepada orang-orang yang berkekurangan. Hal ini mengandung makna universal bahwa umat manusia diajarkan peduli dengan sesama. Islam mengajarkan kesetaraan yaitu bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah Swt adalah orang yang paling bertakwa QS. Al Hujurat 13. Pasca-Ramadan, yaitu bulan Syawal, yang secara etimologi bermakna peningkatan. Syawal mengajarkan akan pentingnya kesabaran dan persaudaraan. Tradisi mudik Lebaran yang biasanya dilakukan di Indonesia, mengandung esensi persaudaraan. Orang-orang yang bekerja di perantauan biasanya akan melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya pada saat menjelang Idul Fitri untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Tak jarang mereka membawa bekal oleh-oleh yang cukup banyak untuk dibagikan ke sanak famili di kampung. Kalau ditelaah lebih jauh sebetulnya para pemudik ini tidak hanya sekadar menyambung tali silaturahmi, melainkan ada makna yang lebih dalam yaitu rasa persaudaraan. Seperti apa pun keadaan di perantauan, saudara di kampung halaman harus merasakan kebahagiaan saat momen mudik itu tiba. Jika ditinjau dari pandangan Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis, fenomena ini disebut sebagai solidaritas mekanis, yaitu solidaritas yang dibangun atas dasar rasa kekeluargaan. Jadi, fenomena mudik ke kampung halaman melahirkan bentuk keakraban yang mungkin tidak ditemukan di masyarakat urban. Hari Pendidikan Nasional pada tahun ini akan diperingati dalam nuansa yang agak berbeda dari sebelumnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan upacara bendera terbatas karena pandemi Covid-19, saat ini bisa diperingati dengan upacara bendera normal seperti biasa. Di samping itu, Hari Pendidikan Nasional saat ini bersamaan dengan momen Idul Fitri 1444 Hijriah karena masih dalam nuansa bulan Syawal. Pandemi Covid-19 mengajarkan arti pentingnya kesabaran. Ruang gerak dibatasi, pergaulan dilimitasi, dan pertemuan diamputasi. Akan tetapi, hikmah di balik itu, terjadi perubahan masif dalam struktur kehidupan masyarakat. Orang jadi lebih melek teknologi dari sebelumnya yang buta teknologi. Media virtual yang sebelumnya tidak dikenal menjadi bagian penting dalam kehidupan. Pembelajaran yang selama ini harus tatap muka langsung, ternyata bisa dijalankan secara virtual dengan kreativitas masing-masing guru. Pengambilan keputusan di organisasi, birokrasi, perusahaan, dan lainnya dapat dilakukan secara virtual. Ramadan mengajarkan arti pentingnya kesabaran dan kesetaraan. Para ulama menyebut bulan Ramadan sebagai bulan tarbiyah pendidikan. Ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diperintahkan untuk menahan hawa nafsu. Menahan diri dari berkata kasar, berkata dusta, melangkah ke tempat yang tidak baik, menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik, dan menjaga hati dari sifat iri, dengki, dan dendam. Ramadan juga mengajarkan pentingnya kesetaraan karena syariat berpuasa sama, baik untuk orang tua/muda, orang kaya/miskin, maupun atasan/bawahan. Dalam bulan Ramadan juga ada perintah mengeluarkan zakat bagi orang-orang yang memiliki harta berlebih yang harus dikeluarkan kepada orang-orang yang berkekurangan. Hal ini mengandung makna universal bahwa umat manusia diajarkan peduli dengan sesama. Islam mengajarkan kesetaraan yaitu bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah Swt adalah orang yang paling bertakwa QS. Al Hujurat 13. Pasca-Ramadan, yaitu bulan Syawal, yang secara etimologi bermakna peningkatan. Syawal mengajarkan akan pentingnya kesabaran dan persaudaraan. Tradisi mudik Lebaran yang biasanya dilakukan di Indonesia, mengandung esensi persaudaraan. Orang-orang yang bekerja di perantauan biasanya akan melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya pada saat menjelang Idul Fitri untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Tak jarang mereka membawa bekal oleh-oleh yang cukup banyak untuk dibagikan ke sanak famili di kampung. Kalau ditelaah lebih jauh sebetulnya para pemudik ini tidak hanya sekadar menyambung tali silaturahmi, melainkan ada makna yang lebih dalam yaitu rasa persaudaraan. Seperti apa pun keadaan di perantauan, saudara di kampung halaman harus merasakan kebahagiaan saat momen mudik itu tiba. Jika ditinjau dari pandangan Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis, fenomena ini disebut sebagai solidaritas mekanis, yaitu solidaritas yang dibangun atas dasar rasa kekeluargaan. Jadi, fenomena mudik ke kampung halaman melahirkan bentuk keakraban yang mungkin tidak ditemukan di masyarakat urban.
LebihDekat Dengan Bapak Pendidikan Nasional. Apabila berbicara mengenai Hari Pendidikan Nasional, nama Ki Hajar Dewantara menjadi yang pertama muncul di dalam pikiran. Kontribusinya dalam bidang pendidikan begitu besar sehingga beliau dianugerahi sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Berikut penjelasan lebih lengkapnya: 1.
- Tanggal 2 Mei selalu menjadi peringatan Hari Pendidikan Nasional Hardiknas. Pemerintah menetapkan 2 Mei sebagai Hardiknas karena bertepatan dengan tanggal kelahiran Ki Hadjar dari National Geographic, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Pahlawan Nasional yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia. Perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Ki Hajar Dewantara. Dirinya merupakan sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Ki Hajar Dewantara merupakan pendiri dari Taman Siswa untuk penduduk pribumi mendapatkan pendidikan yang sama dengan orang-orang zaman penjajahan Belanda, pendidikan merupakan hal yang sangat langka, terpandang, dan tentunya dinilai mahal. Baca juga Hardiknas 2020, Nadiem Belajar Tidak Selalu Mudah, Ini Saatnya Mendengar Nurani Hanya orang-orang terpandang bangsawan dan priyayi serta orang asli Benlanda yang diperbolehkan mendapatkan pendidikan. Tut Wuri HandayaniSemboyan pendidikan Dalam sistem pendidikan, Ki Hajar Dewantoro selalu menerapkan tiga semboyan dalam bahawa Jawa, yaitu Ing ngarso sung tulodho Dindepan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik Ing madyo mbangun karso Di antara murid, guru harus menciptakan ide dan prakarsa
Pandemidi Hari Pendidikan Nasional. By Donitaxina Siahaan. Sabtu, 2 Mei 2020. Sumber: mediaindonesia.com. Hari pendidikan nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei. Peringatan hari pendidikan nasional telah ditetapkan sejak 28 November 1959 silam yakni melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 tahun 1959.
Pendidikan adalah salah satu hal yang sangat penting bagi perkembangan suatu negara. Oleh karena itu, setiap tahunnya Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk pengakuan akan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang Hari Pendidikan Nasional dan pentingnya pendidikan untuk masa depan Indonesia. Pengertian Hari Pendidikan Nasional Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei. Peringatan ini dimulai sejak tahun 1960 atas inisiatif Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tujuan dari peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa. Peringatan Hari Pendidikan Nasional pertama kali dilakukan pada tahun 1960. Namun, pada saat itu peringatan dilakukan pada tanggal 1 Mei. Barulah pada tahun 1972, tanggal peringatan dipindahkan menjadi tanggal 2 Mei. Hal ini dilakukan untuk menghormati kelahiran Ki Hajar Dewantara yang jatuh pada tanggal 2 Mei. Makna Hari Pendidikan Nasional Hari Pendidikan Nasional memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Selain itu, Hari Pendidikan Nasional juga menjadi momen untuk mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara Indonesia dan harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Pentingnya Pendidikan bagi Masa Depan Indonesia Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju. Namun, untuk mencapai hal tersebut, pendidikan merupakan salah satu faktor kunci yang harus diperhatikan dengan serius. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pendidikan sangat penting bagi masa depan Indonesia 1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Pendidikan yang berkualitas dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan negara. 2. Meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional Dengan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain di tingkat internasional. Hal ini akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. 3. Meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara Pendidikan juga dapat meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat akan lebih memahami betapa pentingnya peran mereka sebagai warga negara yang baik. 4. Meningkatkan toleransi antarwarga negara Pendidikan dapat membantu meningkatkan toleransi antarwarga negara. Dalam pendidikan, anak-anak diajarkan dalam menerima perbedaan dan menghargai keberagaman. Hal ini akan membawa dampak positif bagi terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai. 5. Meningkatkan kemampuan inovasi dan kreativitas Pendidikan juga dapat meningkatkan kemampuan inovasi dan kreativitas masyarakat Indonesia. Dengan memiliki kemampuan ini, masyarakat akan lebih mudah mengembangkan potensi dan menciptakan peluang untuk berkembang. Tantangan dalam Pendidikan di Indonesia Meskipun pendidikan sangat penting bagi masa depan Indonesia, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Beberapa tantangan tersebut antara lain 1. Keterbatasan akses pendidikan Masih banyak masyarakat Indonesia yang sulit mengakses pendidikan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur dan juga ekonomi. 2. Kualitas pendidikan yang rendah Meskipun sudah banyak sekolah yang dibangun, masih banyak sekolah yang memiliki kualitas pendidikan yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas dan juga tenaga pengajar yang berkualitas. 3. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan Masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang memahami betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Hal ini menjadi salah satu faktor mengapa masih banyak anak yang putus sekolah. Solusi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain 1. Meningkatkan akses pendidikan Pemerintah dapat membangun lebih banyak sekolah dan juga memperbaiki infrastruktur pendidikan untuk meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat. 2. Meningkatkan kualitas tenaga pengajar Pemerintah dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar dengan memberikan pelatihan dan juga meningkatkan upah mereka. 3. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan Pemerintah dapat melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti televisi dan juga internet. Kesimpulan Hari Pendidikan Nasional adalah momen penting untuk mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. Dalam artikel ini, kita telah membahas tentang pengertian, sejarah, makna, serta pentingnya pendidikan bagi masa depan Indonesia. Kita juga telah membahas beberapa tantangan dan solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, marilah kita jadikan peringatan Hari Pendidikan Nasional sebagai momen untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa Indonesia. FAQ Apa itu Hari Pendidikan Nasional? Hari Pendidikan Nasional adalah peringatan untuk mengingatkan akan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Siapa yang mengusulkan Hari Pendidikan Nasional? Ki Hajar Dewantara Apa tujuan dari peringatan Hari Pendidikan Nasional? Tujuan dari peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa. Mengapa pendidikan sangat penting bagi masa depan Indonesia? Pendidikan sangat penting bagi masa depan Indonesia karena dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional, meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, meningkatkan toleransi antarwarga negara, dan meningkatkan kemampuan inovasi dan kreativitas. Apa saja tantangan dalam pendidikan di Indonesia? Beberapa tantangan dalam pendidikan di Indonesia antara lain keterbatasan akses pendidikan, kualitas pendidikan yang rendah, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan. Apa solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia? Beberapa solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia antara lain meningkatkan akses pendidikan, meningkatkan kualitas tenaga pengajar, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.NarasiTimes Jakarta - Dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2022 , KMHDI melaksanakan program KMHDI Mengajar secara nasional di 23 Provinsi. KMHDI Mengajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk melakukan pengajaran kepada anak-anak atau pelajar dan/atau masyarakat umum perihal materi umum atau agama sesuai dengan kebutuhan setempat.
Paulus Mujiran. Foto youtube Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tidak ada yang meragukan ketika berbicara mengenai kualitas pendidikan Tanah Air dari sisi akademik. Pencapaian kelulusan rata-rata Ujian Nasional UN setiap tahun mencapai di atas 99% mencerminkan pendidikan secara administrasi telah dikelola dengan baik dari sisi pencapaian akademik atau prestasi belajar. Pendidikan juga lebih murah karena ada program kartu pintar dan bantuan operasional sekolah BOS. Jumlah lulusan dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Guru-guru juga sudah mendapat tunjangan sertifikasi yang diharapkan memacu kinerjanya. Capaian pendidikan juga jauh lebih membanggakan. Namun mengapa justru sekarang kita banyak meratapi kondisi anak-anak yang notabene lebih berpendidikan? Banyak keluhan mengenai kondisi anak-anak didik sekarang, seperti lebih sulit diatur, nakal, bahkan sebagian anak-anak terpelajar ini melakukan tindak kejahatan yang meresahkan. Orang tua juga mengeluhkan masih maraknya kekerasan di sekolah. Yang kerap luput dari perhatian kita adalah anak-anak sekarang hidup dan berkembang di era digital. Mereka berada dalam ketegangan antara model pembelajaran di sekolah yang cenderung masih konvensional dengan caracara pembelajaran modern yang didapat secara digital. Pembelajaran secara digital ini justru tidak mudah dibendung karena diberikan secara terus-menerus dan tidak mengenal waktu. Jika pembelajaran konvensional diberikan hanya dari pukul sampai pukul pembelajaran digital diberikan sepanjang hari bahkan 24 jam. Waktu bersama guru di kelas justru lebih terbatas ketimbang ketika anakanak belajar dengan sarana informasi modern yang kian tidak terbendung. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya kepada sekolah. Itulah sebabnya pengetahuan anak-anak mengenai berbagai persoalan terkadang lebih lengkap ketimbang pengetahuan yang dipunyai oleh guru. Anak-anak bisa sangat kuat dalam penguasaan akademik mengenai sesuatu hal karena diperoleh dari internet tetapi lemah dalam karakter dan kemampuan pengendalian diri. Kerap terlupakan dalam kondisi semacam itu adalah pendidikan karakter atau budi pekerti. Di satu sisi anak-anak mendapat halhal yang berkaitan dengan kejujuran, kebaikan moral, perilaku etis, tetapi anak akan segera berhadapan dengan anomali ketika berhadapan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Anak-anak mendapat pengetahuan tidak boleh mencuri, mencontek, mengambil barang anak lain, tetapi begitu masuk dalam kehidupan nyata, anak menyaksikan beritaberita media demikian banyak orang bebas melakukan tindakan korupsi. Demikian halnya guru berulang-ulang mengajarkan tentang pacaran sehat tetapi apa yang terbaca dari media massa mengenai perilaku seks bebas masa kini yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Oleh karenanya tak ayal pendidikan akan terus digugat relevansinya dalam masyarakat beradab belakangan ini. Gugatan terhadap kinerja guru boleh saja terus dipertanyakan ketika tidak mampu mendidik siswa/inya menjadi lebih tawakal, berperilaku santun sesuai harapan kebanyakan orang. Oleh karena itu, di tengah krisis nilai pendidikan perlu diorientasikan kembali menjadi pendidikan yang berpusat pada pembentukan budi pekerti peserta didik. Pertama, budi pekerti adalah memberikan kesempatan anak-anak berlatih menyediakan ruang kosong dalam hidupnya untuk masuk ke dalam pengalaman pribadi yang mendalam. Sekali waktu dalam sepekan anakanak diajak merefleksikan hidupnya. Nyaris tidak banyak di antara kita yang mengajak anak-anaknya merefleksikan hidupnya sendiri dan kemudian dihubungkan dengan tanggung jawab sosialnya sebagai pelajar. Kedua, dengan budi pekerti membuat anak-anak melihat persoalan-persoalan dalam hidup pada umumnya dalam kacamata hati. Ketika masyarakat pada umumnya terpola dalam budaya instan atau berpikir pendek, anak-anak perlu diajak berpikir dalam kerangka proses. Yang terjadi dalam ranah pendidikan kita sekarang anak-anak justru dibawa mengamini saja seluruh proses instan yang ada dalam masyarakat. Prakarya atau olah keterampilan, misalnya, mestinya anak-anak belajar seluruh proses secara mandiri. Ketiga, mengajak anak masuk lebih dalam hidupnya dengan membuat anak-anak mampu melihat persoalan dalam kacamata orang lain, bukan hanya berpusat pada dirinya sendiri. Mereka mempunyai naluri untuk bertemu orang, bukan hanya berkutat dengan gadget sebagaimana anak-anak zaman ini. Tetapi mereka belajar dari interaksi dengan sesama dan orang lain. Mereka akan lebih peka dan peduli pada kebutuhankebutuhan orang lain. Anak juga lebih mandiri karena belajar dari orang, bukan dari mesin atau robot. Ketidakmandirian tampak dari cara mereka bekerja dan menyikapi permasalahan. Yang terjadi sekarang ini prakarya dibeli di toko atau dibuatkan orang tua sehingga anak-anak tidak mengalami budaya proses. Hilangnya budaya proses ini menyebabkan anakanak memandang persoalan secara jangka pendek dan instan. Jika tidak bisa mengerjakan soal dalam ujian yang dilakukan adalah mencontek teman atau membawa contekan yang sudah disiapkan dari rumah dengan niat memang untuk mencontek. Jika harus membuat makalah tugas yang dilakukan adalah copas alias copy paste dari internet yang kini sudah sangat tersedia dengan bebas. Persoalan pendidikan memang tidak semata-mata membuat mereka pintar. Apakah orang tua yang memaksakan anaknya terus menjadi juara kelas sadar betul bahwa sekolah adalah ajang belajar hidup? Juga perusahaan-perusahaan yang hanya menerima para juara sekolah dengan indeks prestasi tinggi sudah benar dalam bertindak? Bukankah kebanyakan orang sukses bukan karena pintar atau juaranya tetapi bagaimana mampu mengolah hidupnya sehingga berarti bagi orang lain? Paulus Mujiran, Pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang Editor Gora Kunjana gora_kunjana Dapatkan info hot pilihan seputar ekonomi, keuangan, dan pasar modal dengan bergabung di channel Telegram "Official Lebih praktis, cepat, dan interaktif. Caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS
.